Ujungkasur #Jilbab Terakhir

Jilbab Terakhir



Amir nama seorang lelaki muda dengan segala harta kekayaan yang ia miliki. Orang tuanya sudah mendidiknya jadi seorang pengusaha sukses. Usia Amir sudah menginjak 30tahun, namun sampai saat ini ia belum diberikan pasangan.
Suatu ketika ia bertemu dengan dua orang yang dikirim oleh tuhan untuk pilihannya. Amir yang memegang teguh agama menghadapi cobaan ini. Ira sosok cantik. Suatu ketika Amir sedang berjalan bersama teman-temannya di bioskop Ira meminta ijin kepada Amir untuk keluar sebentar di tengah-tengah film sedang berputar. Amir yang penasaran membuntuti Ira dari belakang. Alangkah terkejutnya Amir ternyata Ira sedang menuju musolah unuk menunaikan solat. Amir segera kembali ke bioskop dan menunggu Ira.
Hubungan Amir dan Ira semakin dekat. Hadirlah sosok Ima anak dari salah satu teman ayahnya. Ima mengenakan jilbab, berasal dari salah satu pesantren dan kini sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi islam. Seketika darah Amir terhenti dan mengalir ke Ima. Pertemuan mereka sengaja di atur dalam sebuah acara kantor ayahnya. Saat itu Ima mengenakan baju gamis panjang berwarna hijau tosca dengan jilbab berwarba pink. Seluruh lelaki seketika melihat Ima sosok yang anggun, bukan tetapi sangat anggun. Aura dari Ima membuat semua orang terpana, termasuk Amir. Ima selalu setia mengikuti ayahnya belakang. Akhirnya ayah Ima dan ayah Amir bertemu. Perasaan Amir berpacu, jantungnya berdetup kencang dan nafasnya mulai tak teratur. Pertemuan ini lebih berat dari pada acara rapat dengan petinggi bahkan dengan pejabat pemerintaahan.
Sudah lama Amir memendam penasaran dengan sosok Ima. Respon Amir akhirnya di sambut baik oleh ayahnya yang segera memberitahu ayahnya Ima. Amir di beritahukan bahwa jam makan siang ia segera di tunggu oleh ayah Ima. Amir bingung bukanya ini terlalu cepat untuk langsung ketemu ayahnya. Amir sejujurnya setuju saja cara ini mungkin ingin melindungi anaknya. Sampai jam pertemuan di sebuah cafe. Ima sudah menunggu rupanya ia tak sendirian. Ayah dan adiknya bersama Ima. Amir berfikir ini lebih tepatnya pertemuan keluarga daripada pertemuan biasa. Amir ingin sekali pergi namun karena ia sudah terlanjur janji ia pun datang menghampiri mereka. Terjadilah obrolah yang panjang lebar hingga jam makan siangpun harus berakhir. Amir segera balik ke kantornya, dengan terlebih dahulu meminta ijin kepada mereka semua.
Masing teringat dalam benaknya sosok Ima, tiba-tiba Ira menelpon Amir. Tak sengaja amir bercerita sosok Ima, seketika itu membuat darah Ira membeku. Semenjak Amir bercerita tentang Ima, Ira sadar diri. Ira sangat paham sosok yang Amir sukai. Kali ini Ira benar-benar kalah telak, walau ia tidak tahu sosok Ima.
Amir dan Ima akhirnya memutuskan untuk bertemu. harapan Amir mengajak Ima bersama teman-temannya ternyata kandas. Amir bertemu dengan Ima hanya berdua, segeralah Amir menghubungi teman-temannya untuk ikut menonton bisokop bersama mereka. Tak satupun mereka datang karena alasan lembur dan sebagainya. Akhirnya ia teringat Ira, Amir harus menelpon Ira. Ira yang tahu bahwa Amir sedang jalan dengan Ima merasa kesal sekaligus penasaran. Ira memutuskan untuk ikut walau ia harus di sogok akan di ajak makan direstoran favoritnya terlebih dahulu oleh Amir.
Acara bioskop kali ini tak terlalu bagus, kisah percintaan membuat Ira semakin ingin muntah. Ira melihat jam dan segera meminta izin untuk pergi sebentar. Kali ini Amir sudah faham Ira akan pergi kemana. Ima belum beranjak pergi dan sedang asik menonton. setelah Ira kembali, Amirpun pergi tak perlu di tanya lagi kemana ia pergi. Sekembalinya Amir melihat Ima masih asyik menonton. Amir kembali ke tempat duduknya tanpa bertanya kepada Ima. Akhirnya film selesai, Amir bergegas mengantarkan Ima dan Ira pulang dengan mobilnya. 
Ira yang ribut menagih janjinya terlebih dahulu terpaksa membawa mereka ke restoran. Ira tersenyum puas, karena emosi Ira memesan apa saja yang ada. Amir hanya bisa tersenyum melihat Ira. Ima hanya memesan makanan sederhana. hati Amir makin tertarik dengan Ima. Tiba-tiba Ira mendengar suara berdering dari nada ponselnya. Sepertinya Ira harus segera pulang. Muka kesal Ira tampak karena belum menghabiskan pesanan yang ia makan. Amir hanya tersenyum dan menyarankan Ira segera kembali sambil bilang "mungkin lain kali aku akan meneraktirmu lagi" tiba-tiba Ira tersenyum senang. Ira bergegas pergi dan mengucapkan terimakasih.

Situasi berdua ini membuat Amir canggung. Ima yang semenjak tadi hanya diam kini mulai berbicara "Amir kenapa sih kau ajak perempuan itu?" tanya Ima dengan nada ketus. Amir menjawab "karena aku tak ingin jika kita menonton berdua". "Ah kamu tuh gx peka" jawab Ima mengakhiri percakapan panas itu. Segeralah Amir menghabiskan sisa makanan dan membayarnya di kasir.
Amir akhirnya keluar dari restoran setelah membayar di kasir. Ima semenjak tadi sudah menunggu di samping mobil merasa kesal karena terlalu lama. Amir segera membukakan pintu untuk Ima. Dari samping restoran keluarlah Ira dari sebuah serambi kecil. Amir hanya diam, dalam hatinya sekarang bergejolak dua darah yang sama kuatnya.
Ira pergi menuju kedepan menuju taxi tanpa sempat Amir kejar. Ima hanya melihat di balik kaca tengah mobil. Amir kembali ke mobil dengan perasaan bersalah. Ima yang sedang menunggu di dalam tak banyak berucap hanya memperhatikan.

Tiga bulan berlalu. Ima semenjak saat itu tidak menghubungi Amir. Begitu pula Amir tak menghubungi keduanya. Kesibukan masing-masing membuat mereka jauh. karena ada sosial media jarak yang begitu jauhpun masih terlihat walau tak ada yang menegur sapa.
Amir datang kepada Ira, kedatanganya kali ini langsung menuju rumah Ira. Rupanya Amir di sambut baik oleh ibu dan ayahnya. Kedua orang tuanya mengetahui bahwa Amir adalah salah satu dari teman-teman Ira, namuan mengapa ia datang sendiri pertanyaan itu menjadi penasaran di hati mereka. Amir meminta izin untuk mengobrol di depan rumah. Orang tua Ira menyetujuinya dan kembali masuk ke dalam.
"Ira jika aku akan menikahimu, akankah kamu memakai jilbab?" tanya Amir serius. "Tidak, aku tidak suka, jika kamu mau dan tertarik denganku aku pikir kamu harus menerimaku apa adanya" jawab Ira dengan tegas. Amir kembali berfikir, pernyataan Ira ada benarnya. "Maaf  aku salah karena memaksakan kehendaku tanpa berfikir dengan dirimu" Amir merasa bersalah kepada Ira. Amir segera berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Pertemuan singkat itu membuat amir tahu ada alasan kenapa ira tidak mau mengenakannya. Sepertinya harapan Amir pupus. Sekarang ia menuju kerumah Ima tanpa memberitahukan keluarga Ima terlebih dahulu. Sesampainya di rumah terlihat Ima bersama seorang pria sedang duduk di depan rumahnya. Amir ragu untuk memasuki rumah, sudah terlanjur berada disini. Amir pun memberi salam, Ima menjawab salam lalu berkata "kakak Amir, mau bertemu dengan ayah yah? yuk masuk". Amir belum sempat menjawab mengikuti langkah Ima memasuki ruang tamu. Ayah Ima keluar dari ruangan tengah menju ruang tamu. "nak, Amir ada apa tumben kesini tanpa memberitahukan saya" tanya ayah Ima. "Oh saya tadi kebetulan dari rumah teman jadi sekalian mampir ke sini pak" jawab Amir sambil melihat Ima menuju kembali ke depan. 
Sepertinya tak perlu menunggu lagi untuk mencari tahu siapa orang di depan itu. Amir hanya memastikan pertanyaan itu terjawab dengan datang ke rumah Ima dan semua kini sudah selsai mendapatkan jawabanya. Sepanjang perjalanan Amir berfikir siapa yang cocok, namun sepertinya ia memutuskan untuk memilih.

Hari ini Amir berada di rumah sakit bersama seorang wanita yang ia sudah nikahi. hampir 30tahun lamanya wanita ini menemani hidupnya. Amir tidak lagi tampan seperti dulu, namun ketampananya masih terlihat di anak pertamanya dan anaknya yang kedua sungguh anggun, tidak sangat anggun mengenakan gamis berwarna hijau dan berkerudung hijau muda. Kecantikanya sama persis dengan wanita yang terbaring di atas kasur. Sepanjang malam Amir tanpan henti menggenggam tangannya. Amir percaya kesembuhan akan datang pada istrinya, Amir mencoba mebantu istrinya untuk duduk agar ia bisa solat. Setelah solat ia mengambil sebuah kado, Amir membukakan untuknya, kain sederhana ia lilitkan kepada istrinya.
"seandainya dari dulu engkau memakainya, kita mungkin akan berbahagia dan dipertemukan lagi di dunia sana, sebagai laki-laki aku juga pantas menanggung dosanya maafkan aku. tak sedikitpun aku menyesal walau aku melihatmu memakainya di detik terakhir dalam hidupku dan hidupmu"

tak ada banyak kata lagi selain "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" sambil menutup kedua matanya dan mencium keningnya.


by : Muhammad Faiz Prawiro Negoro

1 comments:

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author